Uji Validitas

Uji validitas adalah uji untuk menentukan apakah rangkaian kuesioner yang dipergunakan mampu mengukur apa yang ingin diukur. Ilustrasinya adalah bahwa timbangan valid untuk mengukur berat badan, tetapi tidak valid untuk mengukur tinggi badan. Demikian juga, meteran valid untuk mengukur panjang suatu benda, tetapi tidak valid untuk mengukur suhu suatu benda. Sepertinya sangat sepele, tetapi ini sering memusingkan banyak mahasiswa. Dalam artikel ini kita akan membahas tentang uji validitas saja, tidak terkait langsung dengan bahasan tentang uji reliabilitas, meskipun keduanya adalah dua uji yang harus dilakukan pada suatu rangkaian kuesioner.


Daftar Isi

  1. Pendahuluan
  2. Apa yang terjadi jika kuesioner tidak valid
  3. Metode pengujian validitas
  4. Validitas dan Reliabilitas


Pendahuluan

Dalam suatu penelitian (terutama kuantitatif) maka kita akan berhadapan dengan variabel. Variabel adalah sesuatu yang abstrak, berbeda dengan benda seperti mobil, meja, rumah dan lain-lain. Misalnya variabel motivasi kerja. Kita akan sulit untuk mengukur motivasi kerja seorang karyawan karena tidak ada alat ukur yang secara langsung menentukan seberapa motivasi kerja karyawan tersebut. Berbeda dengan meja, kita bisa dengan langsung mengukur tinggi, atau berat meja tersebut. Konsep kecepatan pun bisa kita ukur secara langsung. Tetapi motivasi kerja tidak demikian.

Kita harus mempunyai suatu set alat ukur yang mampu mengukur motivasi kerja (atau variabel yang lain). Di sinilah kita akan mencoba menyusun berbagai pertanyaan yang akan diberikan kepada karyawan (subjek penelitian) agar kita dapat mengukur tinggi rendahnya motivasi kerja karyawan tersebut. Kita tidak bisa secara sembarangan menentukan item atau indikator yang dijadikan pertanyaan. Harus ada teori yang lengkap atau dasar pertimbangan yang logis.

Sebagai ilustrasi, kita akan mengukur sosial ekonomi seseorang (ini hanya contoh saja, mohon jangan fokus ke contohnya). Maka kita bisa menggunakan pertanyaan berapa gajinya, berapa luas rumahnya, berapa banyak mobilnya (atau silahkan yang lain). Tetapi mungkin kurang cocok jika kita menggunakan pertanyaan tentang berapa jumlah anaknya. Ini hanya contoh saja.

Atau mungkin kita ingin mengukur tingkat kegantengan seseorang. Mungkin kita bisa menggunakan indikator apakah ceweknya cantik atau tidak, apakah sering main sinetron, atau kah seberapa sering menjadi bintang iklan, atau seberapa jumlah like yang diperoleh ketika memposting selfie di Instagram atau sosial media yang lain. Mungkin akan terjadi perdebatan, banyak kok, orang yang tidak ganteng tetapi main sinetron terus. Ini masuk akal. Atau banyak kok orang yang jelek tetapi sering mendapatkan tawaran iklan. Nah, di sinilah tinjauan teori sangat penting agar indikator yang dipergunakan tidak salah. Kalau indikator yang dipergunakan salah, maka kuesioner tersebut tidak valid atau tidak mampu mengukur apa yang ingin diukur. Ujungnya adalah hasil penelitian kita akan bias.

Mudah-mudahan sudah jelas. Lalu ada pertanyaan, lho, ganteng atau tidaknya kan bisa dilihat secara langsung, misalnya hidung mancung, kulit wajah mulus atau yang lain. Nah, memang benar. Jika kita membahas lebih lanjut, maka di Partial Least Square, kita akan mengenal indikator reflektif dan indikator formatif. Apa itu? Bayangkan indikator reflektif adalah akibat dari konsep yang kita bentuk atau kita ukur, misalnya wajah ganteng. Maka akibat ganteng adalah disukai mertua, sering main sinetron atau sering main iklan. Arah anak panah adalah dari konstruk menuju kepada indikatornya. Sedangkan indikator formatif adalah ciri-ciri atau yang menjadi penyebab dari konstruk, misalnya hidung mancung, kulit mulus, dagu lancip dan lain-lain. Indikator reflektif akan saling berkorelasi, sedangkan indikator formatif tidak berkorelasi satu sama lain. Coba bayangkan saja :)


Apa yang terjadi jika kuesioner tidak valid

Tentunya mudah kita jawab yaitu bahwa kuesioner tersebut tidak mampu mengukur apa yang ingin diukur. Hasil pengukuran dengan kuesioner tersebut bias, sehingga tidak layak dipergunakan sebagai sumber data. Banyak sekali yang tidak sadar melakukan hal ini dalam penelitiannya. Menggunakan rangkaian kuesioner yang sudah valid, lalu dipergunakan dan ketika diuji tidak valid lalu menjadi bingung.

Coba bayangkan, sebuah timbangan yang sangat valid dipergunakan untuk mengukur berat badan seseorang, apakah valid dipergunakan untuk menimbang bumbu dalam sebuah resep. Tentunya tidak. Ini juga yang sering kejadian dalam penelitian. Ketika ada kuesioner sudah valid dipergunakan untuk mengukur motivasi manajer pada suatu penelitian, belum tentu valid dipergunakan untuk mengukur motivasi kerja staf. MANAJER dan STAF tentunya mempunyai karakteristik yang berbeda, harapan yang berbeda dan juga standar hidup yang berbeda. Jadi rangkaian kuesioner yang sudah valid pun perlu diuji lagi ketika ada peneliti yang menggunakan dalam konsep penelitian yang berbeda.

Lalu bagaimana menyusun rangkaian kuesioner yang tepat? Selalu gunakan teori yang ada. Jangan asal comot dari contoh kuesioner, tetapi tinjaulah terlebih dahulu apakah dasar teorinya sesuai dengan rancangan penelitian yang ada. Setelah itu uji validitas dan jika ada item yang tidak valid, bisa dikeluarkan dari model penelitian, lalu coba diuji lagi. Demikian seterusnya sampai tersisa item yang semuanya valid. Banyak peneliti yang menggunakan dua atau tiga indikator saja, sehingga ketika tidak valid jadi bingung karena jika dikeluarkan menjadi habis indikatornya. So..gunakan indikator yang cukup banyak sehingga kita bisa mengeliminir indikator yang tidak valid. Bagaimana jika terlanjur menggunakan indikator sedikit, ya tidak ada kata terlanjur, silahkan dikoreksi lagi. Waktunya tidak cukup kak....lha....artikel ini tentang uji validitas bukan artikel untuk konsultasi atau bimbingan seperti itu.


Metode pengujian validitas

Ada banyak uji validitas dan hampir semua telah dibahas di blog ini. Silahkan klik di navigasi di atas dan pilihlah metode yang diinginkan.

Navigasi Uji Validitas

Metode yang sering dipergunakan adalah dengan Korelasi Pearson. Anda dapat melakukan uji dengan Pearson menggunakan SPSS atau pun dengan Excel. Dengan metode Pearson, maka sebuah indikator akan diukur dua kali, yaitu sebagai korelasi dan satunya sebagai jumah dari total indikator yang ada. Oleh karena itu, ada metode untuk mengurangi efek spurious overlap tersebut dengan Item to total correlation. Bisa dilakukan dengan SPSS bisa juga dengan Excel. Dengan metode ini, maka hasilnya akan lebih rendah karena mengurangi efek pengukuran dua kali tersebut.

Analisis faktor juga bisa dipergunakan sebagai uji validitas. Penggunaan dengan Excel masih agak kesulitan sehingga disarankan dengan SPSS saja. Uji validitas dalam Structural Equation Modeling bisa menggunakan loading factor atau jika indikator formatif bisa menggunakan T hitung.


Validitas dan Reliabilitas

Validitas sangat sering disandingkan dengan kata reliabilitas. Keduanya memang uji yang sering dipergunakan pada rangkaian kuesioner. Akan tetapi keduanya adalah hal yang berbeda dan tidak berkaitan secara langsung. Maksudnya, kuesioner yang sudah valid tidak serta merta pasti reliabel. Banyak kasus, rangkaian kuesioner yang sudah valid, ketika diuji ternyata tidak reliabel. Ini wajar saja, tidak usah bingung dan bertanya-tanya bisa terjadi. Silahkan dimodifikasi agar reliabel, misalnya mengeluarkan indikator yang menjadikan tidak reliabel. Setelah itu jangan lupa diuji lagi validitasnya, karena rangkaian kuesioner yang reliabel pun belum tentu valid. Jadi bolak-balik ya, jangan bosan.

Rangkaian kuesioner harus valid dan reliabel, tidak bisa salah satu saja ya. Dan setelah valid dan reliabel, juga jangan bingung kenapa hipotesis tidak diterima. Ini hal yang berbeda dan tidak ada keterkaitan secara langsung, dalam arti kuesioner yang valid pasti hipotesisnya diterima. Tidak ada ketentuan demikian.

Share:

Apa itu Marketplace dan Bedanya dengan Toko Online

Pada dasarnya, marketplace merupakan pihak perantara yang mengakomodasi kepentingan pihak penjual dan pihak pembeli di dalam dunia maya. Website marketplace akan menjadi layaknya pihak ketiga dalam transaksi online dengan menyediakan fitur penjualan serta fasilitas pembayaran yang mudah dan aman. Marketplace sendiri bisa kita artikan sebagai suatu department store-nya online store. Kita bisa mendapatkan barang apa saja di marketplace, seperti layaknya kita berbelanja secara konvesional, atau datang ke department store.

Simulasi Gambar Marketplace


Daftar Isi

  1. Pendahuluan
  2. Apa itu Marketplace?
  3. Apa saja jenis-jenis Marketplace
  4. Apa bedanya Marketplace dengan Online Shop
  5. Apa saja contoh Marketplace
  6. Kesimpulan


Pendahuluan

Dalam beberapa tahun terakhir, transaksi perdagangan online atau e-commerce di Indonesia selalu mengalami peningkatan. Oleh karena itu, sistem perdagangan ini diramalkan memiliki masa depan yang cerah, dan marketplace merupakan salah satu pemain terbesar yang ada pada bisnis e-commerce di Indonesia.

Kegiataan jual beli online ini memang menjadi tren baru sejak beberapa tahun terakhir. Salah satu penggunanya mungkin adalah Anda. Tren ini semakin dipertajam dengan adanya pandemi Covid-19 di mana orang diharuskan membatasi aktivitas, bahkan interaksi sesama manusia juga menjadi semakin terbatas. Oleh karena itu, transaksi jual beli yang dulunya dilakukan secara langsung, didorong untuk menjadi tidak secara langsung atau melalui online.

Satu dari sekian banyaknya platform yang digunakan banyak orang untuk melakukan perdagangan online adalah marketplace. Mari kita bahas bersama apa itu marketplace.


Apa itu Marketplace?

Marketplace adalah pihak perantara yang mengakomodasi kepentingan pihak penjual dan pihak pembeli di dalam dunia maya. Website marketplace akan menjadi layaknya pihak ketiga dalam transaksi online dengan menyediakan fitur penjualan serta fasilitas pembayaran yang mudah dan aman. Marketplace sendiri bisa kita artikan sebagai suatu department store-nya online store. Kita bisa mendapatkan barang apa saja di marketplace, seperti layaknya kita berbelanja secara konvesional, atau datang ke department store.

Marketplace mirip dengan pasar (market) tradisional di mana ada transaksi jual beli di sana. Hanya perbedaan yang mencolok adalah tidak adanya pertemuan langsung antara penjual dengan pembeli. Komunikasi antara penjual dan pembeli dilakukan secara online atau dijembatani dengan teknologi, yaitu internet.


Apa Saja Jenis-jenis Marketplace itu?

Sebenarnya terdapat dua jenis bentuk kerja sama yang di lakukan marketplace, yaitu marketplace murni dan juga marketplace konsinyasi.


1. Marketplace Murni

Marketplace murni adalah marketplace yang menyedikan fitur penjualan untuk berjualan, lengkap dengan fasilitas pembayarannya. Penjual yang bekerjasama di dalamnya akan diberikan keleluasaan yang sangat banyak dibandingkan dengan marketplace konsinyasi. Di sini pembeli juga lebih leluasa untuk melakukan pembelian karena langsung ditangani oleh penjual secara langsung.

Setiap penjual diberi kewajiban untuk menyediakan deskripsi dan foto produknya sendiri. Selain itu, penjual juga bisa menerima penawaran harga yang dilakukan oleh pembeli. Jadi sebelum pembeli melakukan pembayaran, maka pihak pembeli bisa melakukan penawaran harga pada penjual. Tetapi layanan penawaran ini optional, di mana tidak setiap marketplace menyediakan menu ini dan juga tidak setiap penjual harus mengaktifkan menu penawaran ini.

Beberapa contoh marketplace yang terkenal dengan jenis kerjasama ini adalah Tokopedia, Shopee, BliBli, Bukalapak, Elevenia, Lazada, JD.id, Amazon dan lain-lain.


2. Marketplace Konsinyasi

Marketplace konsinyasi adalah lebih mirip seperti titip barang. Jadi, jika pihak penjual ingin melakukan kerjasama dengan situs marketplace ini, maka pihak penjual hanya perlu menyediakan produk dan detail informasi produknya ke pihak marketplace saja. Beberapa marketplace yang menyediakan jenis kerjasama konsinyasi adalah Zalora, Berrybenka dan lain-lain

Nantinya, pihak situs marketplace akan mengurus seluruh penjualan produk, dari mulai foto produk, gudang, pengiriman barang, serta fasilitas pembayaran. Jenis kerjasama ini sangat berbeda dengan kerjasama sebelumnya, karena pada jenis kerjasama ini pembeli tidak bisa melakukan penawaran karena seluruh harga dan alurnya sudah di atur dan ditangani oleh situs marketplace.

Pihak marketplace akan mengurus seluruh hal terkait penjualan dari mulai pengiriman barang foto, gudang, produk, hingga fasilitas pembayaran.

Dalam perkembangannya, saat ini marketplace murni juga memberikan fitur atau layanan di mana semua urusan ditangani oleh pihak marketplace. Misalnya Tokopedia dengan fitur cabang, di mana penjual hanya mengirim barang ke gudang, dan handling selanjutnya ditangani oleh Tokopedia. Atau Shopee dengan fitur export-nya.


Apa Bedanya Marketplace dengan Online shop?

Apakah keduanya adalah dua platform yang sama? Tentu saja jawabannya adalah tidak sama, keduanya adalah dua bentuk platform yang berbeda. Letak utama perbedaannya adalah perantara.

Marketplace merupakan pihak perantara yang menyatukan penjual dengan pembeli. Sedangkan online shop sama sekali tidak membutuhkan perantara. Penjual akan langsung menjual produknya pada platform miliknya sendiri, jadi tidak memerlukan perantara sama sekali.

Melakukan penjulan dengan platform online shop akan menuntut Anda untuk bisa lebih mandiri. Anda harus membuat website, mengelola pemasaran, misalnya dengan bantuan media sosial, dan harus berhubungan langsung dengan pelanggan.

Meskipun begitu, mengelola website online shop sendiri juga mempunyai banyak keuntungan tersendiri, terlebih lagi jika Anda sudah memiliki brand. Saat ini bahkan sudah banyak brand sukses yang membangun online shop-nya  sendiri.

Selain itu, keuntungan lain yang akan Anda rasakan ketika mengelola website online shop sendiri adalah: (a) Toko online shop Anda akan mendapatkan kepercayaan yang lebih banyak di mata pelanggan; (b) Online shop Anda akan lebih mudah ditampilkan di mesin pencarian google. Hal ini sangat penting karena pelanggan selalu melakukan riset dengan memanfaatkan mesin pencarian terlebih dahulu sebelum benar-benar membelinya; (c) Meminimalisir sifat ketergantungan dengan pihak lain, karena Anda akan dituntut untuk mempelajari dan mengelola website Anda sendiri, bukan website orang lain.

Jadi jika Anda sedang mengembangkan brand Anda, maka website adalah kebutuhan yang paling utama. Anda akan memiliki pusat toko yang seluruh kendalinya benar-benar Anda kuasai. Jadi, jika suatu waktu ada masalah tertentu di marketplace, maka Anda tidak akan kebingungan karena sudah memiliki online shop sendiri.  


Apa Saja Contoh Marketplace?

Saat ini, persaingan marketplace yang ada di Indonesia sangat ketat. Banyak sekali pemain baru dan pemain lama yang bersaing dalam mendapatkan konsumen di Indonesia. Marketplace di bawah ini merupakan contoh lima marketplace besar di Indonesia yang termasuk dalam jenis marketplace murni, alasannya adalah jangkauan pasarnya lebih banyak dan sangat beragam.


Tokopedia

Didirikan oleh William Tanuwijaya pada Februari 2009, Tokopedia merupakan salah satu marketplace yang sudah bergerak lama di Indonesia. Marketplace ini bahkan mendapat predikat sebagai marketplace terbesar dan telah melakukan merger dengan Gojek sehingga sekarang dikenal juga dengan istilah Go To.

Selain itu, tokopedia juga termasuk ke dalam kategori salah satu startup unicorn Indonesia, yang artinya nilai valuasi Tokopedia sudah menyentuh angka lebih dari $1 miliyar.

Marketplace Tokopedia


Bukalapak

Bukalapak juga sama-sama memiliki gelar startup unicorn layaknya Tokopedia. Bukalapak ini didirikan oleh Ahmad Zaky pada pada 2010 di Bandung, Jawa Barat. Selama ini, marketplace bukalapak sudah menjual sahamnya di Bursa Efek Indonesia dan mendapatkan respons yang positif di mata para investor.

Marketplace Bukalapak

Shopee

Shopee merupakan salah satu marketplace asal Singapura, marketplace ini sudah mengekspansi pasar Asia Tenggara sejak tahun 2015 lalu, termasuk ke Indonesia. Saat ini Shopee dinyatakan sebagai marketplace terbesar kedua di Indonesia setelah Go To meskipun beberapa waktu yang lalu sempat dikabarkan sebagai terbesar di Indonesia.

Marketplace Shopee


Lazada

Nampaknya Lazada mulai merasa kesulitan dalam menghadapi persaingan dengan marketplace lainnya. Walaupun pada tahun 2018 lalu marketplace ini mendapati banyak sekali pengunjung, namun pada tahun 2019 dan seterusnya mengalami penurunan.

Marketplace Lazada


Blibli

Bli-bli merupakan marketplace karya PT Global Digital Niaga, salah satu anak perusahaan Djarum. Marketplace ini yang dulunya mempunyai penjual terbatas, sekarang mulai meningkatkan jumlah penjual yang aktif di platformnya.

Marketplace Blibli


Kesimpulan

Jadi pada dasarnya, marketplace merupakan platform perantara yang bertugas menghubungkan pihak pembeli dan penjual. Sementara itu, online shop merupakan situs pribadi milik perusahaan yang didalamnya melakukan penjualan tanpa perantara.

Setiap penjual atau perusahaan bisa membuat online shopnya sendiri sebagai wujud platform yang digunakan untuk menjual produknya secara langsung pada para pembeli.

Jadi, perbedaan antar kedua platform ini adalah tersedia atau tidaknya peran perantara.

Share:

Apa itu Program Afiliasi dan Apa Keuntungannya?

Program afiliasi adalah program yang memungkinkan Anda mendapat komisi apabila Anda berhasil membuat orang lain membeli atau menggunakan suatu produk. Berbeda dengan reseller, karena reseller harus menjual sendiri produk yang dimaksud. Afiliasi juga dapat dilakukan oleh seorang influencer, misalnya youtuber atau platform yang lain.


Daftar Isi

  1. Apa itu Program Afiliasi
  2. Cara Kerja Program Afiliasi
  3. Keuntungan Program Afiliasi
  4. Kesimpulan


Apa Itu Program Afiliasi?

Program afiliasi adalah program yang memungkinkan Anda untuk mendapatkan komisi apabila Anda berhasil membuat orang lain membeli atau menggunakan suatu produk. Jumlah dari komisi yang Anda dapatkan berbeda-beda tergantung kebijakan perusahaan yang Anda ikuti. Ada yang memberikan 5% atau 10% saja, tetapi ada juga yang memberikan bahkan sampai dengan 90%. Akan tetapi kita harus cermat, tidak semata-mata kepada prosentase saja, tetapi juga nominal, sistem, dan masih banyak lagi parameter yang harus kita cermati sebelum memutuskan menggunakan suatu produk sebagai materi afiliasi kita.

Gambar Simulasi Program Afiliasi

Cara Kerja Program Afiliasi

Mari kita bahas secara singkat dulu para pihak yang terlibat di dalamnya. Tiga pihak yang terlibat langsung dalam program afiliasi adalah:

Pemilik Produk: bisa merupakan perusahaan, vendor, penjual, dan lainnya. Merekalah yang mengeluarkan program afiliasi ini. 

Afiliator: orang yang mengikuti program afiliasi. Mereka bertugas memasarkan produk dari pemilik program afiliasi kepada calon konsumen.

Konsumen:  konsumen bisa membeli produk dari pemilik produk melalui afiliator.

Cara kerja program afiliasi adalah sebagai berikut:


1. Daftar Program Afiliasi

Untuk mengikuti program afiliasi, Anda harus mendaftar terlebih dahulu. Pendaftaran biasanya bisa dilakukan di website perusahaan tersebut.

Nah, setelah mendaftar, Anda akan mendapatkan kode referral. Kode referral ini unik untuk setiap orangnya dan digunakan sebagai konfirmasi kalau konsumen memang membeli dari afiliator tersebut.

Oh ya, kadang justru Anda yang ditawari untuk mengikuti program afiliasi, lho. Penawaran program afiliasi ini biasanya terjadi pada influencer media sosial atau blogger trafik besar dengan tema pembahasan yang sesuai dengan produk afiliasi tersebut.


2. Promosi Produk Afiliasi

Agar bisnis afiliasi menghasilkan banyak komisi, Anda harus mempromosikan kode referral sehingga banyak yang orang beli. Promosi ini bisa Anda lakukan dengan beberapa cara:

Buat Review Produk di Blog

Anda bisa menulis artikel yang mereview suatu produk afiliasi. Tapi ingat, Anda harus mempertimbangkan kesesuaian tema blog dengan produk afiliasi. Usahakan target audiens blog dan target audiens produk afiliasi itu sama agar promosi Anda efektif.

Tulislah review yang apa adanya dan membahas pengalaman Anda menggunakan produk tersebut dengan mendalam. Jabarkan kelebihan dan kekurangannya, lalu akhiri dengan CTA kode referral Anda.

Untuk membuat review produk referral ini, Anda harus memiliki blog. Oleh karena itu, jika Anda belum punya blog, kami sarankan untuk membuatnya terlebih dahulu. Blog ini adalah salah satu sarana penting untuk promosi kode referral Anda.

Walaupun begitu, jangan menaruh banner promo di setiap sisi website secara acak begitu saja. Karena ini bisa membuat pengunjung muak dan justru meninggalkan website Anda.

Usahakan untuk memasang banner di tempat-tempat strategis, misalnya di header atau di sisi samping blog. Anda juga bisa mengkombinasikannya dengan konten review produk dan menempatkan banner di akhir artikel sebagai CTA.


Media Sosial

Buat postingan di media sosial yang membahas produk afiliasi Anda. Mulai dari review singkat hingga posting ulang dari akun resmi pemilik produk. 

Usahakan Anda juga menerapkan strategi social media marketing agar promosi lebih efektif dan maksimal. Oleh karena itu, kami sarankan Anda mempelajari social media marketing.

Oh ya, jangan lupa juga untuk memasukkan CTA di dalam postingan Anda di media sosial. CTA ini bisa dalam bentuk caption di postingan atau mengarahkan ke bio untuk link referral.

Jika Anda mempunyai kanal YouTube, justru lebih baik lagi karena Anda bisa membuat video edukasi mengenai topik dari produk afiliasi tersebut. Kemudian, Anda bisa menyisipkan link referral di dalam video atau pada deskripsi video.

Promosi di forum online bisa Anda lakukan dengan menuliskan review singkat produk afiliasi. Atau bisa juga dengan ikut diskusi lalu menyisipkan link referral di komentar Anda.

Namun, satu hal yang harus Anda ingat bahwa berbeda forum berbeda pula aturan mainnya. Ada forum yang membolehkan promosi produk, ada pula forum yang melarang keras promosi dalam bentuk apapun. Jadi sebaiknya Anda baca dulu aturan di sana, ya.


3. Orang-Orang Menggunakan Kode Referral Anda

Tujuan melakukan promosi afiliasi adalah agar orang-orang menggunakan kode referral Anda. Nah, jika ada yang menggunakan kode referral, konsumen mendapat diskon tambahan dan Anda sebagai afiliator mendapatkan komisi.

Oh ya, walaupun Anda mendapatkan komisi dari pembelian konsumen, bukan berarti harga produk yang dibeli konsumen akan lebih tinggi daripada harga normal. Umumnya, harganya sama saja bahkan ada yang lebih murah.


4. Dapatkan Komisi

Komisi akan didapatkan apabila ada yang menggunakan kode referral Anda. Nah di sini, Anda akan berbagi profit dengan pemilik produk.

Namun, untuk mendapatkan komisi tak melulu mengharuskan konsumen membeli suatu produk terlebih dahulu, lho. Tergantung dari perusahaannya, ada tiga jenis komisi dari program afiliasi:


Per Penjualan

Ini adalah jenis pembagian komisi yang umumnya diterapkan dalam program afiliasi. Setelah konsumen membeli produk melalui link referral, Anda akan diberikan komisi beberapa persen dari harga penjualan.

Dengan kata lain, orang-orang tak hanya harus mengklik link referral, lalu Anda akan langsung mendapatkan komisi. Namun, mereka wajib melakukan pembelian terlebih dahulu dan menjadi konsumen dari perusahaan pemilik produk.


Per Klik

Seperti namanya, komisi ini dibayarkan apabila ada orang yang mengklik link referral. Biasanya, link referral akan mengarahkan mereka ke website pemilik produk. Jadi bisa dikatakan bahwa komisi per klik ini dibayarkan berdasar peningkatan trafik website dari pemilik produk.


Keuntungan Program Afiliasi

Apa saja keuntungan afiliasi? Banyak. Contohnya seperti penghasilan pasif dan jam kerja yang fleksibel.

Penasaran kan apa saja keuntungan dari program afiliasi? Berikut adalah enam manfaat yang akan Anda rasakan jika menjadi seorang Afiliator!


1. Penghasilan Pasif

Suatu pekerjaan pada umumnya mengharuskan Anda untuk berada di tempat kerja untuk mendapatkan uang. Sementara dengan program afiliasi, Anda akan tetap mendapatkan uang saat tidur sekalipun.

Promosi yang Anda lakukan di awal akan tetap berada di sana selamanya (kecuali jika Anda menghapusnya). Ini membuat uang tetap masuk berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan setelahnya.

Anda tak perlu berada di depan komputer untuk mendapatkan uang. Cukup duduk manis dan uang akan datang dengan sendirinya.


2. Modal Kecil

Perusahaan penyedia program afiliasi itu ada dua jenis. Pertama adalah perusahaan yang tak memberikan syarat wajib membeli produk mereka terlebih dahulu untuk mendaftar program afiliasi.

Sedangkan jenis kedua, perusahaan mewajibkan Anda untuk membeli produknya agar bisa ikut di program afiliasi mereka.

Untuk jenis kedua, sebaiknya pilihlah produk yang memang sedang Anda butuhkan. Jadi, Anda bisa memenuhi kebutuhan pribadi sekaligus mendapatkan uang dari produk yang orang beli dari program afiliasi.


3. Kerja dari Rumah

Anda bisa menjalankan strategi promosi link referral dari mana saja, termasuk dari sofa di rumah. Yang Anda butuhkan hanyalah koneksi internet dan laptop/smartphone. Jadi, afiliasi adalah jenis pekerjaan sempurna bagi Anda yang tak suka bekerja kantoran. 


4. Jam Kerja Fleksibel

Anda tak terikat kontrak yang mengharuskan untuk mempromosikan program afiliasi setiap hari dari jam tertentu layaknya bekerja kantoran. Jadi, Anda sendirilah yang menentukan kapan saatnya promosi dan kapan saatnya bersantai. 


5. Bisa Ikut Banyak Program Afiliasi

Anda mungkin merasa kalau mendaftar satu program afiliasi saja masih tidak cukup. Nah, tak perlu pusing karena Anda bisa ikut program afiliasi dari perusahaan lainnya di saat yang sama. 

Anda bisa mendaftar ke tiga atau empat program afiliasi sekaligus, selama memang tidak bertentangan dengan syarat dan ketentuan dari perusahaan lainnya. Jadi, pastikan Anda membaca syaratnya terlebih dahulu agar tidak terkena konsekuensi di masa depan.


6. Penghasilan Murni dari Kerja Keras Anda

Pada pekerjaan lain, Anda bisa saja bekerja hingga 80 jam per minggu dan masih menghasilkan gaji yang sama. Hal ini tak berlaku apabila Anda ikut program afiliasi.

Uang yang didapatkan dari bisnis afiliasi itu tergantung sepenuhnya dari kerja keras usaha Anda melakukan promosi. Dengan kata lain, semakin niat usaha Anda, semakin besar pula hasil yang akan didapatkan.


Kesimpulan

Afiliasi adalah salah satu cara untuk mendapatkan uang yang sangat flesibel. Fleksibel karena tidak ada jam kerja yang mengikat dan tidak ada keharusan atau kewajiban layaknya seorang karyawan atau pegawai pada perusahaan tertentu. Tidak ada target sama sekali, tetapi semua penghasilan adalah berasal dari usaha dan kerja Anda sendiri.

Setelah mendaftar afiliasi, lalu Anda diamkan saja, maka tidak akan ada uang yang masuk ke rekening Anda. Anda tetap harus meluangkan waktu untuk mengelola usaha afiliasi Anda, tentunya dengan waktu yang sangat fleksibel.

Untuk potensi pendapatannya boleh dibilang sangat luas. Bisa saja 0, dalam arti  Anda tidak mendapatkan sepeser pun, tetapi juga bisa mendapatkan jutaan atau bahkan puluhan juta per bulan, semuanya tergantung dari aktivitas Anda sendiri.

Share:

Uji Beda Dua Sampel Berhubungan pada Statistik Non Parametrik

Uji beda dua sampel berhubungan adalah uji beda untuk melihat perbedaan antara dua sampel yang berhubungan (berkorelasi) atau dari sampel yang sama dengan treatment (perlakuan) yang berbeda. Istilah treatment dapat berupa latihan, pemberian obat atau suntikan, metode pembelajaran, kebijakan perusahaan dan masih banyak lagi. Pada setiap kasus, kelompok yang mendapatkan perlakuan dibandingka dengan kelompok yang tidak mendapatkan perlakuan atau mendapatkan perlakuan lainnya.


Daftar Isi

  1. Pendahuluan
  2. Uji McNemar
  3. Uji Sign
  4. Uji Wilcoxon
  5. Uji Marginal Homogenity
  6. Kesimpulan


Pendahuluan

Pada kasus perbandingan antara dua kelompok, kadang-kadang ada bias yang sangat fatal. Peneliti bisa menemukan adanya perbedaan yang signfikan, tetapi sebenarnya perbedaan itu bukan dikarenakan perlakuan. Misalnya kita ingin membandingkan keputusan pembelian Iphone antara dua kelompok, yaitu kelompok masyarakat yang tinggal di perkampungan dengan masyarakat yang tinggal di perumahan. Bisa saja peneliti menemukan perbedaan yang signifikan tetapi bukan karena tempat tinggal, tetapi karena variabel yang lain, misalnya pengaruh pergaulan sosial (ini hanya contoh saja).

Simulasi Gambar Uji Beda Sampel Berpasangan Non Parametrik
Salah satu cara untuk menghindari adanya bias tersebut maka dilakukan dengan menggunakan dua sampel yang berpasangan (match). Kita dapat menghubungkan atau memasangkan kedua sampel yang akan diteliti. Pemasangan tersebut dapat dilakukan dengan pengontrol dirinya sendiri atau memasangkan subjek kemudian memberikan perlakuan yang berbeda. Untuk pengontrol dirinya sendiri, kita dapat mengukur variabel yang akan diukur pada 'sebelum' lalu membandingkannya dengan 'setelah' diberikan perlakuan. Misalnya harga saham diukur sebelum melakukan stock split lalu diukur lagi setelah melakukan stock split, lalu dibandingkan.

Contoh yang memasangkan, adalah dengan memilih suatu kelas lalu membaginya menjadi dua secara acak. Setelah itu dipasangkan dengan kriteria mempunyai nilai yang relatif sama. Setelah itu bagian pertama diberikan metode pembelajaran A, sedangkan bagian yang kedua diberikan metode pembelajaran B. Setelah itu dievaluasi lalu dibandingkan pada kedua pasangan tersebut.

Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan untuk menganalisis model ini. Berikut beberapa di antaranya akan dibahas disertai dengan contoh.


Uji McNemar

Uji McNemar cocok dipergunakan untuk uji sampel berpasangan yang menggunakan skala ordinal atau bahkan nonimal. Dengan keunikan ini, maka Uji McNemar dapat dipergunakan untuk uji beda sampel berpasangan yang menggunakan data biner atau dummy (0 dan 1). Konsep dasarnya menggunakan tabulasi silang (cross tabulation) seperti yang telah kita kenal baik pada Chi Square.

Untuk contoh uji McNemar dengan SPSS versi 23 silahkan visit ke sini.


Uji Sign

Uji Sign juga merupakan uji beda dua sampel berpasangan tetapi berdasarkan 'tanda' yaitu lebih besar, lebih kecil atau sama dengan. Jadi uji sign tidak mendasarkan pada pengukuran kuantitatif dari data, tetapi kepada mana yang lebih besar, mana yang lebih kecil atau sama dengan. Oleh karena itu dapat dipergunakan untuk data yang tidak memungkinkan atau kesulitan untuk mengukur secara kuantitatif.

Berikut contoh simulasi Uji Sign dengan SPSS Versi 26,


Uji Wilcoxon

Pengembangan dari Uji Sign adalah Uji Wilcoxon. Dengan uji Wilcoxon, kita tidak hanya mendapatkan arah tetapi juga menggunakan ranking dari masing-masing kedua data. Jadi kedua sampel dilakukan ranking lalu ranking itulah yang diuji bedanya. Jadi kita dapat mendapatkan informasi yang lebih dibandingkan dengan uji Sign. Dengan uji Wilcoxon, kita tidak hanya mendapatkan informasi  bahwa kedua sampel berbeda atau tidak, tetapi juga bisa menentukan sampel mana yang lebih tinggi (atau lebih rendah).

Berikut adalah contoh Simulasi Uji Wilcoxon dengan SPSS Versi 23.


Uji Marginal Homogeinity

Uji Marginal homogeinity sudah terdapat di SPSS Versi 26 dan beberapa versi sebelumnya. Metode ini lebih powerfull dibandingkan ketiga metode lainnya yang telah dibahas di atas.

Berikut adalah contoh simulasi Uji Marginal Homogeinity dengan SPSS Versi 26


Kesimpulan

Dengan menggunakan uji beda dua sampel yang berhubungan, kita bisa mengeleminir adanya pengaruh dari variabel lain yang tidak menjadi topik dalam penelitian. Dengan adanya kontrol dari 'diri sendiri' maka unsur bias tersebut dapat direduksi. Untuk non parametrik, setidaknya tersedia alat analisis yang beragam, karena data non parametrik juga mempunyai variasi yang beragam, dari nominal, ordinal, berbentuk distribusi frekuensi ataupun sebenarnya rasio tetapi tidak memenuhi asumsi normalitas.

Share:

Uji Beda Dua Sampel Independent pada Statistik Non Parametrik

Uji beda dua sampel independent dipergunakan untuk menguji perbedaan dua sampel yang tidak berkorelasi, bisa parametrik atau non parametrik.  Untuk statistik non parametrik, setidaknya ada dua kemungkinan, yaitu dua sampel tersebut mungkin diambil secara random dari populasi atau dua sampel ini berasal dari pemberian dua perlakuan secara random terhadap anggota sampel. Kedua metode ini tidak mensyaratkan adanya jumlah data yang sama pada kedua sampel tersebut.

Simulasi Uji Beda Dua Sampel Independent pada Statistik Non Parametrik

Daftar Isi

  1. Pendahuluan
  2. Median Test
  3. Mann Whitney U Test
  4. Kolmogorov Smirnov
  5. Wald Wolfowitz
  6. Kesimpulan


Pendahuluan

Banyak kasus di mana kita berhadapan denga dua buah kelompok atau sampel data yang tidak berasal dari populasi yang sama atau mempunyai jumlah atau anggota sampel yang tidak sama. Untuk statistik parametrik, maka harus ada beberapa asumsi, misalnya normalitas dan juga skala pengukuran juga harus interval atau rasio. Tetapi banyak data yang tidak berskala itu, misalnya nominal atau ordinal. Oleh karena itu, statistik non parametrik menjadi sangat penting ketika kita bekerja dengan data berskala nominal atau ordinal.

Sebagai contoh adalah data yang berbentuk biner, atau data yang berkala ordinal. Beberapa metode statistik non parametrik untuk dua sampel yang tidak berhubungan justru lebih banyak dari pada metode statistik parametrik untuk dua sampel yang tidak berhubungan. Beberapa di antaranya kita bahas bersama di artikel ini.


Median Test

Independent Sample T Test adalah uji untuk melihat apakah terdapat perbedaan antara dua sampel yang tidak berhubungan (berkorelasi) berdasarkan nilai median. Dua sampel ini bisa berasal dari populasi yang berbeda atau bisa juga berasal dari satu sampel tetapi dengan perlakuan (treatment) yang berbeda. Jika lebih dari dua sampel maka bisa menggunakan K Independent sample t test. Dalam hal ini K independent sample t test juga akan memberikan hasil yang konsisten jika dikenakan pada dua sampel.

Karena menggunakan median, maka metode statistik ini dapat dikenakan pada data rasio atau interval, tetapi tidak memenuhi asumsi parametrik. Metode ini dapat diaplikasikan pada dua sampel, tetapi juga bisa diterapkan pada banyak sampel (atau k). Simulasi selengkapnya tentang Median test kami berikan di sini. Dalam simulasi tersebut diberikan contoh median test dengan menggunakan SPSS Versi 23.


Mann Whitney U Test

Mann Whitney U Test dapat diterapkan pada data yang berbentuk ordinal atau rangking. Dalam data ordinal, maka jelas dipergunakan statistik non parametrik, karena data ordinal tidak bisa dikenai uji normalitas seperti data berskala interval atau rasio. Tetapi metode ini juga sering dipergunakan pada data berskala interval atau rasio tetapi tidak memenuhi asumsi normalitas sehingga data tersebut dianggap berbentuk ordinal.

Metode Mann Whitney U test sering dipergunakan dalam test non response bias di mana kuesioner yang diberikan bisa saja berbentuk interval, misalnya dengan skala 1 sampai dengan 7 atau bahkan skala 1 sampai dengan 10. Artikel tentang Mann Whitney U Test selengkapnya kami tampilkan di sini.


Kolmogorov Smirnov

Uji Kolmogorov Smirnov Z adalah uji untuk menguji perbedaan dua sampel yang tidak berhubungan berdasarkan distribusi frekuensi pada statistik non parametrik. Mungkin kita lebih familier uji Kolmogorov Smirnov untuk uji normalitas. Uji itu merupakan perluasan penggunaan dan pada satu sampel. Diperluas oleh Liliefors sebagai uji normalitas dan akhirnya populer dipergunakan untuk menguji normalitas suatu distribusi data.

Uji Kolmogorov Smirnov pada dua sampel juga menggunakan prinsip dasar yang sama dengan satu sampel yang berdasarkan frekuensi atau frekuensi kumulatif. Kalau satu sampel dibandingkan dengan frekuensi kumulatif data normal, kalau untuk dua sampel, keduanya dibandingkan, berbeda atau tidak. Simulasi uji non parametrik dua sampel independen dengan Kolmogorov Smirnov dibahas di sini. 


Wald Wolfowitz

Metode yang keempat yang kita bahas di sini adalah metode Wald Wolfowitz. Sering juga disebut dengan Wald Wolfowitz Runs, karena memang merupakan pengembangan dari uji Run atau Run test yang telah kita bahas di uji satu sampel non parametrik. Jumlah Run atau Run(s) (jamak) menjadi penentu apakah satu sampel tersebut acak atau tidak. Uji ini juga diadopsi di uji asumsi klasik menjadi uji autokorelasi yang juga sangat populer atau sering dipergunakan.

Karena merupakan pengembangan dari run test, maka uji ini juga menghitung jumlah runs dari masing-masing sampel lalu dibandingkan apakah mempunyai perbedaan atau tidak. Simulasi uji Wald Wolfowitz selengkapnya kami bahas di sini dengan SPSS Versi 26.


Kesimpulan

Bekerja dengan statistik non parametrik memang membuat wawasan kita menjadi semakin luas. Banyak pengukuran di masyarakat luas yang tidak dengan serta merta kita gunakan sebagai data apa adanya. Bobot orang suka dengan sangat suka akan bias ketika berbeda orang dan juga berbeda selisihnya dengan tidak suka dengan sangat tidak suka. Hal inilah yang membuat statistik parametrik tetap dipergunakan sampai dengan sekarang.

Jika dihitung-hitung maka jumlah metode pada statistik non parametrik sering lebih banyak dibandingkan statistik parametrik dalam kasus yang sama. Statistik juga mempunyai keunikan lain yaitu dapat dikenakan pada jumlah sampel yang kecil dan sering kali dapat kita hitung secara manual atau menggunakan spread sheet saja. 

Share:

Rasio Keuangan Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)

Rasio keuangan adalah alat analisis keuangan perusahaan untuk menilai kinerja suatu perusahaan berdasarkan perbandingan data keuangan yang terdapat pada pos laporan keuangan. Rasio keuangan menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain. Rasio keuangan sering dianggap sebagai salah satu tolok ukur kinerja perusahaan.


Daftar Isi

  1. Pendahuluan
  2. Rasio likuiditas
  3. Rasio aktivitas
  4. Rasio solvabilitas
  5. Rasio profitabilitas
  6. Rasio investasi
  7. Kesimpulan


Pendahuluan

Rasio keuangan sangat diperlukan dalam melakukan analisis terhadap suatu laporan keuangan. Secara sederhana saja, jika kita menemukan sebuah perusahaan (A) mempunyai profit 1 Miliar, lalu melihat perusahaan (B) mempunyai profit 10 Milliar. Maka kita serta merta bisa menyimpulkan bahwa perusahaan B jauh lebih profit dibandingkan perusahaan A. Akan tetapi, jika kita melihat data laporan keuangan yang lain, misalnya Total Assets, kita dapatkan bahwa perusahaan A mempunyai Total Assets 5 Milliar, sedangkan perusahasan B mempunyai Total Assets sebesar 1 Trilliun. Di sini kita mulai berubah pikiran, bahwa ternyata perusahaan A lebih efektif dalam memanfaatkan sumber daya yang ada. Jika kita perbandingkan, maka perusahaan A mempunyai profitabilitas 20% sedangkan perusahaan B mempunyai profitabilitas 1% saja.

Maka tampak bahwa rasio keuangan sangat diperlukan dalam melakukan analisis terhadap suatu laporan keuangan. Investasi dari seorang investor (dan juga stake holders yang lain) akan bergantung kepada rasio keuangan yang ada. Jika seorang investor menginvestasikan dana di perusahaan A maka dia bisa mendapatkan revenue 20% dibandingkan di perusahaan A yang hanya sebesar 1%. Tetapi apakah hanya itu pertimbangannya? Tentu saja tidak. Itu hanya contoh sederhana saja. Masih banyak pertimbangan lain, sehingga rasio keuangan yang ada juga bermacam-macam. Berikut adalah uraian singkat tentang rasio keuangan yang ada.

Simulasi Gambar Rasio Keuangan

Rasio Likuiditas atau Liquidity Ratio

Rasio keuangan likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan likuiditas jangka pendek suatu perusahaan dengan melihat aktiva lancar perusahaan relatif terhadap utang lancarnya. Andaikan perusahaan A yang mempunyai profitabilitas tinggi, tetapi tidak mampu melunasi hutang jangka pendeknya, bisa berpotensi kegagalan operasional perusahaan yang berarti masalah besar bagi investornya.

Beberapa rasio likuiditas yang ada adalah sebagai berikut:

Rasio Lancar atau Current Ratio adalah untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo dengan aktiva lancar yang tersedia. Semakin besar perbandingan aktiva lancar dengan utang lancar, semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya. Apabila rasio lancar 1:1 atau 100% berarti bahwa aktiva lancar dapat menutupi semua utang lancar. Jadi dikatakan sehat jika rasionya berada di atas 1 atau diatas 100%. Artinya aktiva lancar harus jauh di atas jumlah utang lancar.

Rasio Cepat atau Quick Ratio/Acid Test Ratio adalah kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban atau utang lancar dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai persediaan. Rasio ini menunjukkan kemampuan aktiva lancar yang paling likuid mampu menutupi utang lancar. Semakin besar rasio ini semakin baik. Angka rasio ini tidak harus 100% atau 1:1. Walaupun rasionya tidak mencapai 100% tapi mendekati 100% juga sudah dikatakan sehat.

Cash Ratio yaitu rasio yang membandingkan antara kas dan aktiva lancar yang bisa segera menjadi uang kas dengan hutang lancar. Kas yang dimaksud adalah uang perusahaan yang disimpan di kantor dan di bank dalam bentuk rekening koran. Sedangkan harta setara kas (near cash) adalah harta lancar yang dengan mudah dan cepat dapat diuangkan kembali, dapat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi negara yang menjadi domisili perusahaan bersangkutan. Arti juga pengertian rasio keuangan ini menunjukkan porsi jumlah kas + setara kas dibandingkan dengan total aktiva lancar. Semakin besar rasionya semakin baik. Sama seperti Quick Ratio, tidak harus mencapai 100%.


Rasio Aktivitas atau Activity Ratio

Rasio aktivitas adalah untuk melihat pada beberapa asset kemudian menentukan berapa tingkat aktivitas aktiva-aktiva tersebut pada tingkat kegiatan tertentu. Aktivitas yang rendah pada tingkat penjualan tertentu akan mengakibatkan semakin besarnya dana kelebihan yang tertanam pada aktiva-aktiva tersebut. Dana kelebihan tersebut akan lebih baik bila ditanamkan pada aktiva lain yang lebih produktif.

Beberapa rasio yang termasuk dalam rasio aktivitas adalah:

Perputaran Piutang, adalah rasio yang mengukur berapa kali, secara rata-rata piutang yang dikumpulkan dalam satu tahun. Rasio ini mengukur kualitas piutang dan efisiensi perusahaan dalam pengumpulan piutang dan kebijakan kreditnya. Rasio keuangan perputaran piutang adalah untuk mengukur efektivitas pengelolaan piutang. Semakin tinggi tingkat perputarannya semakin efektif pengelolaan piutangnya.

Perputaran Persediaan, adalah rasio yang menggambarkan likuiditas perusahaan, yaitu dengan cara mengukur efisiensi perusahaan dalam mengelola dan menjual persediaan yang dimiliki oleh perusahaan. Rasio ini mengukur efektivitas pengelolaan persediaan. Semakin tinggi tingkat perputarannya semakin efektif pengelolaan persediaanya.

Perputaran Aktiva Tetap, yaitu rasio yang mengukur sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan berdasarkan aktiva tetap yang dimiliki perusahaan. Rasio ini memperlihatkan sejauh mana efektivitas perusahaan menggunakan aktiva tetapnya. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin efektif proporsi aktiva tetap tersebut.

Perputaran Total Aktiva, adalah rasio yang menghitung efektivitas penggunaan total aktiva. Rasio yang tinggi biasanya menunjukkan manajemen yang baik, sebaliknya rasio yang rendah harus membuat manajemen mengevaluasi strategi, pemasarannya, dan pengeluaran investasi atau modalnya.


Rasio Solvabilitas atau Solvability Ratio

Rasio solvabilitas adalah adalah menunjukkan tingkat efektivitas penggunaan aktiva atau kekayaan perusahaan. Semakin tingginya tentu dianggap semakin baik oleh stake holders demikian sebaliknya.

Rasio keuangan solvabilitas yang ada adalah sebagai berikut:

Rasio Utang terhadap Aktiva atau Total Debt to Asset Ratio adalah rasio yang mengukur seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang atau seberapa besar hutang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva. Rasio ini menunjukkan sejauh mana utang dapat ditutupi oleh aktiva. Semakin kecil rasionya semakin aman (solvable) demikian sebaliknya.

Rasio Utang terhadap Ekuitas atau Total Debt to Equity Ratio adalah rasio keuangan yang menunjukkan hubungan antara jumlah utang jangka panjang dengan jumlah modal sendiri yang diberikan oleh pemilik perusahaan yang berguna untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan kreditur dengan pemilik perusahaan. Besarnya utang tidak boleh melebihi modal sendiri agar beban tetapnya tidak terlalu tinggi.


Rasio Profitabilitas dan Rentabilitas atau Profitability Ratio

Rasio keuangan profabilitas adalah rasio keuangan yang menunjukkan tingkat imbalan atau perolehan (keuntungan) dibanding penjualan atau aktiva. Semakin tinggi profitabilitas semakin menarik minat para investor karena mengharapka adanya return dari saham yang dimilikinya.

Beberapa rasio profitabilitas yang sering dipergunakan adalah sebagai berikut:

Margin Laba Kotor atau Gross Profit Margin yaitu merupakan ukuran persentase dari setiap hasil sisa penjualan sesudah perusahaan membayar harga pokok penjualan.

Margin Laba Operasi atau Operating Profit Margin adalah rasio keuangan yang merupakan ukuran persentase dari setiap hasil sisa penjualan sesudah semua biaya dan pengeluaran lain dikurangi kecuali bunga dan pajak, atau laba bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah penjualan.

Margin Laba Bersih atau Net Profit Margin adalah rasio keuangan profitabilitas yang merupakan ukuran persentase dari setiap hasil sisa penjualan sesudah dikurangi semua biaya dan pengeluaran, termasuk bunga dan pajak.

Return On Investment (ROI) adalah rasio profitabilitas yang merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan yang akan digunakan untuk menutup investasi yang dikeluarkan. Laba yang digunakan untuk mengukur rasio ini adalah laba bersih setelah pajak atau EAT. Rasio ini digunakan dalam contoh pendahuluan di atas dalam artikel ini.

Rentabilitas Ekonomis atau Return On Assets adalah rasio profitabilitas yang merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. Rasio ini mengukur tingkat keuntungan (Earnings Before Income Tax/EBIT) dari aktiva yang digunakan.


Rasio Investasi atau Investment Ratio

Rasio investasi adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memberikan kembalian atau imbalan kepada para pemberi dana, khususnya investor yang ada di pasar modal dalam jangka waktu tertentu. Tujuan dari analisis rasio keuangan tersebut memiliki nilai manfaat bagi para investor sesuai fungsi laporan keuangan bagi investor untuk menilai kinerja sekuritas saham di pasar modal.


Kesimpulan

Dari uraian di atas maka dapat kita simpulkan bahwa perdagangan saham bukanlah suatu perjudian karena ada dasar yang sangat kuat. Kita bisa membeli rumah atau properti, lalu menjualnya lagi dan itu adalah sah bukan tindakan haram atau perjudian. Perdagangan saham juga mirip dengan perdagangan properti. Investor yang membeli saham bisa melakukan pertimbangan berdasarkan rasio keuangan yang ada (atau mungkin pertimbangan lain, seperti ekonomi makro, politik dan sebagainya). Ini pertimbangan yang relatif sama dengan pertimbangan seorang makelar yang akan membeli sebidang tanah, atau bangunan atau bahkan sebuah kendaraan untuk dijual lagi.

Bahkan di idx.co.id juga ada kategori saham syariah yang mempunyai beberapa kriteria tertentu. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa aktivitas perdagangan saham adalah halal dan sah baik secara negara maupun agama.

Jika Anda memerlukan data rasio keuangan, terutama untuk keperluan penelitian, skripsi, thesis atau pun jenis penelitian yang lain, Anda bisa mendapatkan di sini atau di sini

Share:

Uji Beda Satu Sampel untuk Statistik Non Parametrik

Uji beda satu sampel non parametrik dipergunakan untuk menguji hipotesis dari satu sampel saja dan tidak terdistribusi secara normal. Jika jumlah data relatif banyak dan memenuhi asumsi normalitas, maka bisa dipergunakan one sample t test. Uji apa saja yang termasuk dalam kategori ini, kita simak bersama.

Daftar Isi

  1. Pendahuluan
  2. Uji Binomial
  3. Uji Chi Square
  4. Uji Kolmogorov Smirnov
  5. Run Test


Pendahuluan

Uji non parametrik mempunyai keunikan khusus yaitu sering bekerja pada jumlah sampel yang kecil, sehingga dimungkinkan untuk menghitungnya secara manual atau menggunakan alat bantu sederhana, seperti kalkulator atau program spread sheet, misalnya Microsoft Excel. Berbeda dengan statistik parametrik yang banyak bekerja pada jumlah sampel yang besar, sehingga perhitungan seperti itu menjadi agak sulit untuk dilakukan. Kelebihan-kelebihan statistik non parametrik telah kami ulas di sini.

Dalam statistik parametrik kita hanya mengenal one sample t test, tetapi untuk non parametrik, kita mengenal berbagai uji statistik yang lebih bervariatif. Jika sampel tersebut tidak normal, atau jumlahnya relatif sedikit, atau merupakan data biner, maka uji parametrik one sample t test tidak dapat diterapkan. Pengujian satu sampel non parametrik menyatakan bahwa apakah sampel tertentu berasal dari populasi tertentu. Uji satu sampel berbeda dengan uji dua sampel dan juga sering berfungsi sebagai uji goodness of fit. Berikut berbagai uji satu sampel untuk statistik non parametrik.

Contoh Output Chi Square

Uji Binomial

Uji binomial adalah uji beda satu sampel non parametrik yang datanya merupakan dikotomi atau biner. Banyak sekali populasi yang hanya terdiri dari dua kelompok, misalnya pria dan wanita, setuju dan tidak setuju, menikah dan belum menikah, anggota dan bukan anggota sudah vaksin dan belum vaksin dan masih banyak lagi. Populasi ini sering disebut binary population atau dichotomous population.

Jika kita melihat jumlah kategori (2) maka kemungkinan yang ada adalah pasti 1/2 atau 0,5. Di sini kita ingin melihat berapakah probabilitas kita mendapatkan nilai esktrem dibandingkan nilai observasi. Sebagai ilustrasi, kita memberikan pertanyaan kepada orang tua siswa apakah bersedia melakukan sekolah tatap muka (ini hanya contoh, bukan kasus yang sebenarnya) di daerah yang telah berada pada zona hijau. Sebelum diberikan angket, diadakan penjelasan tentang protokol kesehatan dan berbagai informasi penting tentang Covid secara online. Hipotesis yang diberikan adalah bahwa dengan adanya pemahaman yang benar, maka orang tua siswa akan mengijinkan sekolah tatap muka.

Dalam kasus ya dan tidak seperti ini, maka uji binomial sangat cocok untuk diterapkan karena pasti tidak normal. Artikel dan contoh tentang uji binomial kami tampilkan di sini. 


Uji Chi Square

Uji Chi Square dalam kasus satu sampel dapat dipergunakan untuk data kategori atau ordinal. Sering disebut dengan Chi Square Goodness of Fit Test. Uji Chi Square memang sangat luas penggunaannya dalam satunya adalah untuk uji satu sampel non parametrik. Skala kategori atau ordinal misalnya ranking dalam suatu kejuaraan, atau sangat suka, suka dan tidak suka. Jumlah kategori bisa dua atau lebih.

Uji Chi Square juga bisa dikembangkan menjadi korelasi kontingensi atau bahkan diadopsi untuk melihat efikasi suatu vaksin. Uji ini untuk menguji apakah terdapat perbedaan antara jumlah subjek atau respons yang diobservasi dengan jumlah objek yang diharapkan. Atau bisa juga disebut untuk menilai tingkat kesesuaian antara observasi dengan harapan (expected) dalam setiap kategori. Untuk lebih rinci silahkan klik di sini


Uji Kolmogorov-Smirnov

Uji Kolmogorov-Smirnov (KS) mungkin lebih terkenal di statistik parametrik, terutama untuk uji normalitas. Konsep sederhana dari uji KS adalah untuk melihat apakah terdapat perbedaan antara distribusi data dengan distribusi normal dalam bentuk frekuensi data. Dengan konsep yang sederhana ini, maka uji KS sering diadopsi untuk uji normalitas dengan membandingkan distribusi data dengan distribusi normal. Jika terdapat perbedaan berarti data tersebut tidak normal. Konsep ini dikembangkan lebih lanjut menjadi uji Liliefors dalam statistik parametrik.

Klik di sini untuk artikel tentang uji Kolmogorov Smirnov dengan SPSS.


Run Test

Istilah run test juga malah populer di statistik parametrik, terutama untuk uji autokorelasi pada regresi linear. Tetapi sebenarnya run test dikembangkan pada statistik non parametris untuk kasus uji satu sampel. Sering juga disebut dengan The one sample runs test of randomness karena memang diuji untuk melihat apakah suatu distrubusi data random atau tidak.

Run adalah setiap pergantian dari sesuatu yang berbeda. Setiap ada pergantian maka disebut ada run, demikian seterusnya sampai terhitung ada berapa run dalam distribusi data tersebut. 

Klik untuk melihat contoh dan simulasi run test dengan SPSS.

Share:

Pengertian Statistik Parametrik dan Contohnya

Pada prinsipnya ada dua jenis alat uji statistik yaitu statistik parametrik dan statistik non parametrik. Statistik parametrik adalah alat uji statistik yang dikenakan pada data berskala interval atau rasio dan memenuhi syarat-syarat tertentu. Kondisi atau syarat-syarat uji parametrik meliputi:

  1. Observasi harus independen dan pengukurannya tidak boleh bias.
  2. Observasi diambil dari populasi yang berdistribusi normal.
  3. Jika berkaitan dengan lebih dari satu grup, maka harus memiliki varians yang sama.
  4. Variabel yang dipergunakan harus berskala rasio atau interval.

Statistik Parametrik

Jika keempat kondisi di atas terpenuhi, maka dapat dikenai statistik parametrik. Jika tidak terpenuhi, maka digunakan statistik non parametrik. Secara umum, statistik parametrik juga meliputi statistik deskriptif, statistik komparasi dan statistik inferensial. Statistik komparasi atau uji beda dalam statistik parametrik misalnya one sample t test, paired test, independent sample t test, ANOVA dan lain-lain. Sedangkan untuk statistik inferensial, kita mengenal korelasi Pearson, analisis regresi linear, structural equation modeling dan masih banyak lagi.

Baik parametrik maupun non parametrik mempunyai keunggulan masing-masing. Keduanya saling melengkapi dan diharapkan suatu saat, akan ada metode analisis atau alat bantu atau software yang mampu menganalisis model statistik yang bisa mengatasi berbagai permasalahan pada masing-masing metode.

Share:

Uji Beda K Independent Sample dengan Perluasan Median Test

Median Test adalah uji beda untuk melihat perbedaan dari dua sampel yang tidak berhubungan (2 Independent Samples T Test). Dalam kasus lebih dari 2 sampel atau K Samples, maka metode ini masih dapat dipergunakan. Jika peneliti berhadapan dengan 5 atau bahkan 10 sampel maka akan kesulitan jika harus melakukan pengujian berulang-ulang dengan 2 sampel saja, sehingga kita dapat melakukannya secara langsung. Untuk data yang dipergunakan dalam analisis ini, dapat Anda download di Google Drive

Data yang dipergunakan adalah data respons yang diberikan kepada wisata dari Jakarta, Kuala Lumpur dan Bangkok terhadap penerapan adaptasi baru wisata di Pulau Bali. Peneliti ingin melihat apakah terdapat perbedaan preferensi penerapan adaptasi baru wisatawan di Pulau Bali di antara ketiga daerah asal wisatawan tersebut. (ini hanya data simulasi, bukan data yang sebenarnya).

Langkah pertama adalah dengan melakukan uji normalitas dengan Liliefors yang berdasarkan pada Kolmogorov Smirnov yaitu sebagai berikut:

Uji Normalitas dengan Liliefors
Tampak bahwa nilai signifikansi adalah sebesar 0,000 < 0,05 yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara distribusi data dengan distribusi normal. Berarti data tidak terdistribusi secara normal, sehingga menggunakan statistik non parametrik.

Langkahnya sama, yaitu pilih Analyze, pilih Nonparametric Tests, pilih Legacy Dialogs lalu klik pada K Independent Samples seperti pada gambar di bawah:

Memilih Menju Median Test
Maka kita akan masuk ke menu Median Test sebagai berikut:

Menu Median Test
Masukkan variabel respons ke Test Variable List dan Kategori ke Grouping variable seperti pada gambar di atas. Berikan tanda centang pada Median, lalu klik Define Group di bawah Kategori, sehingga akan masuk ke sub menu sebagai berikut:

Sub Menu Grouping Variable
Berikan nilai 1 pada Minimum dan 3 pada maximum karena memang ada 3 kategori dalam penelitian. Setelah itu klik Continue lalu Klik OK sehingga akan keluar output sebagai berikut:

Output Frekuensi
Tampak bahwa dari 22 wisatawan dari Kuala Lumpur terbari rata menjadi 11 di atas median dan 11 di bawah atau sama dengan median. Untuk Jakarta, jumlah yang di bawah atau sama dengan median dua kali yang di atas median. Untuk wisatawan dari Bangkok bahkan hampir 3 kali jumlah responden yang memberikan skor di bawah atau sama dengan median.

Untuk uji hipotesis, maka menggunakan output sebagai berikut:

Output Uji Hipotesis
Jumlah responden total adalah 71 dengan nilai median 35. Diperoleh nilai Chi Square sebesar 2,651 dengan signifikansi sebesar 0,266 > 0,05. Berarti tidak terdapat perbedaan preferensi di antara ketiga kelompok wisatawan berdasarkan daerah asal. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan tujuan wisata pada adaptasi baru akibat Covid-19 sudah dapat memenuhi ekspektasi dari berbagai daerah asal wisatawan.

Share:

Translate

Artikel Populer Seminggu Terakhir

Komentar Terbaru

`

Ingin menghubungi kami untuk kerja sama?

Nama

Email *

Pesan *