Regresi dan Korelasi

Regresi dan Sebab Akibat

Meskipun analisis regresi berkaitan dengan ketergantungan dari suatu variabel kepada variabel lain, tidak berarti bahwa hal itu merupakan hubungan sebab akibat (causation). Kendal dan Stuart (M. G. Kendall and A. Stuart, The Advanced Theory of Statistics, Charles Griffin Publishers, New York, 1961, vol. 2, chap. 26, p. 279) mengatakan bahwa ‘Sebuah hubungan statistik, meskipun kuat dan sugestive, akan tetapi tidak pernah dapat membentuk suatu hubungan sebab akibat, karena hubungan sebab akibat berasal dari teori atau sumber lain.
Simulasi Korelasi Positif dan Negatif
Dalam contoh hasil panen, tidak ada alasan statistik yang mengatakan bahwa hujan tidak tergantung pada hasil panen. Faktanya adalah bahwa hasil panen merupakan variabel yang tergantung pada curah hujan yang bukan merupakan hasil dari analisis statistik. Kita tidak dapat mengontrol curah hujan dengan memberikan variasi pada hasil panen.

Jadi sebuah hubungan statistik tidak dapat dilogika sebagai hubungan sebab akibat. Untuk menggambarkan hubungan sebab akibat (kausalitas), kita harus menggunakan teori terlebih dahulu. Atau contoh lain yaitu bahwa kita mengatakan pengeluaran tergantung dari pendapatan adalah berdasarkan teori ekonomi (bukan pertimbangan statistik). Akan tetapi, analisis regresi juga berdasarkan asumsi bahwa model yang digunakan dalam analisis adalah sebuah model yang benar. Oleh karena itu, arah hubungan sebab akibat tersirat secara implisit dalam bentuk model yang dipostulatkan (postulat: pernyataan yang dianggap benar, sampai ada bukti yang menyatakan bahwa pernyataan itu salah atau aksioma).

Regresi dan Korelasi
Pernyataan yang sering kita dengan adalah bahwa regresi dimengerti dengan kata kunci pengaruh, dan korelasi dimengerti dengan kata kunci hubungan. Pengertian sederhana itu tidaklah salah, akan tetapi, tidak ada salahnya juga kita memahami secara lebih lanjut tentang regresi dan korelasi.

Analisis korelasi berkaitan erat dengan regresi, tetapi secara konsep berbeda dengan analisis regresi. Analisis korelasi adalah mengukur suatu tingkat atau kekuatan hubungan linear antara dua variabel. Koefisien korelasi adalah mengukur kekuatan hubungan linear. Sebagai contoh, kita tertarik untuk menemukan korelasi antara merokok dengan penyakit kanker, berdasarkan penjelasan statistik dan matematika, pada anak sekolah dan mahasiswa (dan seterusnya). Dalam analisis regresi, kita tidak menggunakan pengukuran tersebut. Analisis regresi mencoba untuk mengestimasi atau memprediksikan nilai rata-rata suatu variabel yang sudah diketahui nilainya, berdasarkan suatu variabel lain yang juga sudah diketahui nilainya. Misalnya, kita ingin mengetahui apakah kita dapat memprediksikan nilai rata-rata ujian statistik berdasarkan nilai hasil ujian matematika.

Regresi dan korelasi mempunyai perbedaan mendasar. Dalam analisis regresi terdapat asimtri pada variabel tergantung dan terkiat yang akan dianalisis. Variabel terikat diasumsikan random atau stokastik, sehingga mempunyai distribusi probabilitas. Variabel penjelas (variabel bebas) diasumsikan mempunyai nilai yang tertentu (dalam sampel tertentu). Sebenarnya sangat dimungkinkan bahwa variabel bebas juga stokastik secara intrinsik, akan tetapi untuk kegunaan analisis regresi, maka kita asumsikan bahwa nilai variabel bebas adalah tertentu (fixed). Nilai-nilai pada variabel bebas adalah sama pada berbagai sampel sehingga tidak random atau tidak stokastik.

Dalam analisis korelasi, kita menggunakan dua variabel yang simetris, sehingga tidak ada perbedaan antara variabel terikat dengan variabel penjelas. Korelasi antara nilai ujian matematika dan ujian statistik (dalam contoh di atas) adalah sama dengan korelasi antara ujian statistik dan ujian matematika. Lebih lanjut, dua variabel tersebut diasumsikan random. Seperti yang telah kita ketahui, bahwa kebanyakan teori korelasi berdasarkan pada asumsi variabel random, di mana kebanyakan teori regresi berdasarkan pada asumsi variabel tergantung stokastik dan variabel bebas adalah tertentu atau non stokastik. Meskipun demikian, dalam analisis yang lebih mendalam, kita dapat mempertimbangkan kembali asumsi bahwa variabel penjelas merupakan non stokastik.

(Gujarati, 2004:22-24)
Share:

70 komentar:

  1. Cara membaca durbin watson gimana ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan posting di bawah artikel yang sesuai. Terima kasih.

      Hapus
  2. hasil pengujian korelasi sama regresi hasil nya berbeda? itu kenapa?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Regresi dan korelasi memang hal yang berbeda. Terima kasih.

      Hapus
  3. mas kalau judul skripsiku hubungan keceedasan emosional dna kreativitas mengajar guru dengan prestasi belajar. kalau pakai pendekatan korelasi bukan regresi bisa gak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau hubungan gunakan korelasi. Terima kasih.

      Hapus
  4. Pak saya mau tanya kalau misalkan hasil dari korelasi ada hubungan sedangkan hasil regresi menyatakan tidak ada pengaruh itu penyebab nya apa ya? Terus cara mengatasi nya bagaimana ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dua variabel bisa saja berkorelasi tapi tidak ada kausalitas. Terima kasih.

      Hapus
  5. Pak, kalau berat badan ibu dengan total kolesterol menggunakan regresi atau korelasi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon maaf kami tidak tahu. Silahkan lihat di rujukan penelitian Anda. Terima kasih.

      Hapus
  6. Assalamualaikum, ka saya mau nanya kalau judul penelitian saya kontribusi efikasi diri terhadap minat itu menggunakan korelasi atau regresi ya ka? Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan lihat rujukan penelitian Anda. Terima kasih.

      Hapus
  7. kak mau bertanya, apa bedanya korelasi ganda dan regresi ganda?


    BalasHapus
  8. kalo uji pengaruh kecepatan angin terhadap hasil tangkapan ikan , itu pake korelasi atau regresi ya kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengaruh = regresi, hubungan = korelasi. Sudah ada di naskah. Terima kasih.

      Hapus
    2. Lalu apakah kita bisa menggunakan dua variabel yg sama untuk dua analisis regresi dan korelasi? contoh hubungan/pengaruh antara pahra dengan permintaan?

      Hapus
    3. Kenapa harus dua analisis. Penelitian tentu ada rancangannya. Terima kasih.

      Hapus
  9. Terima kasih, sangat membantu.

    BalasHapus
  10. Maaf apa setiap analisis korelasi itu perlu adanya analisis regresi. Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak. Tergantung dari rancangan penelitian Anda. Terima kasih.

      Hapus
  11. Saya ingin bertanya. Skripsi saya membahas tentang pengaruh, namun sebelum masuk ke analisis regresi harus dikorelasi terlebih dahulu (untuk uji validitas. Apabila variabel saya positif memiliki pengaruh, akan tetapi tidak memiliki hubungan satu sama lain, apakah hal tersebut salah? Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan baca2 artikel di atas, juga baca artikel tentang uji validitas dan reliabilitas. Terima kasih.

      Hapus
  12. Apakah setiap analisis korelasi perlu ada analisis regresi? mohon di jelaskan pak. terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidak, tergantung tujuan analisis. Silahkan simak di artikel. Terima kasih.

      Hapus
  13. Apakah penelitian korelasi masih membutuhkan uji asumsi? Apabila langsung melakukan uji korelasi apakah akan berpengaruh apabila tanpa uji asumsi pak? Karena saya menemui di artikel ada yang pakai uji asumsi dan ada pula yang tidak. Terima kasih pak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setiap metode biasanya ada asumsi, tinggal diikuti saja. Terima kasih.

      Hapus
  14. Pak mau bertanya contoh kongret perbedaan antara korelasi sama regresi seperti apa ya ?

    BalasHapus
  15. Pak mau bertanya, hipotesis saya ada pengaruh negatif, dan saya menggunakan uji regresi, bagaimana cara menunjukkan hipotesis saya one tail ketika menggunakan regresi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ketika menggunakan pengaruh 'negatif' berarti one tail kak. Terima kasih.

      Hapus
    2. Mau bertanya lagi pak, untuk di hasil output SPSSnya sendiri, berarti memang tidak ada tercantum 'one tail'nya ya Pak? Kita melihat 'one tail' hanya dari hipotesisnya saja? Terimakasih banyak pak

      Hapus
    3. Tergantung yang mana kak. kalau regresi memang tidak ada, tetapi kalau metode lain kadang dikeluarkan yang one tailed.

      Hapus
  16. Permisi pak saya mau bertanya, kalau hipotesis penelitian saya terdapat hubungan positif antara dimensi dimensi job crafting (4 dimensi) dengan keterikatan kerja, lalu saya menggunakan analisis regresi berganda apakah sudah benar?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untuk metode silahkan merujuk pada referensi Anda dan juga tujuan penelitian Anda. Terima kasih.

      Hapus
  17. Permisi pak saya ingin bertanya, kalau judul skripsi pengaruh keterampilan terhadap motivasi kerja karyawan termasuk regresi linier atau regresi non linier? mohon pencerahannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tergantung asumsi yang dipergunakan Kak. Coba baca2 dulu di referensi penelitian terdahulu. Terima kasih.

      Hapus
  18. Pak ijin saya mau bertanya.. saya dari kimia dan saya tidak begitu mengerti mengenai statistik.. jika saya punya data seperti ini pak : 5 gelas air gula, setiap gelas memiliki kadar gula bertingkat, kita contohkan gelas pertama sampai kelima kadarnya 10 20 30 40 50 %.. nilai uji rotasi optiknya juga bertingkat misal 2.0 4.0 6.0 8.0 dan 10.0.. sebaiknya saya pakai koefisien korelasi (r) atau determinasi (R2) pak?..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tergantung tujuan penelitian kak. kalau mencari hubungan gunakan korelasi, dan jika data sedikit, sebaiknya menggunakan non parametrik. Terima kasih.

      Hapus
  19. Pak saya ada pertanyaan, bagaimana jika dalam analisis regresi linear berganda, variabel Y data interval, lalu variabel X nya 2 jenis data yaitu data interval dan (data ordinal yang dikonversi menjadi interval) apakah data saya normal?

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. Hati2 ketika melakukan konversi dari ordinal ke interval, 2. Silahkan diuji normalitasnya. Terima kasih.

      Hapus
  20. Selamat pagi pak, saya ingin bertanya. Penelitian saya berjudul Efektivitas Media Audiovisual terhadap Penurunan Tingkat Kecemasan dengan desain one group pre test dan post test. Namun dosen saya meminta perlakuan diberikan hingga tingkat kecemasan hilang. Sehingga skala data var. independen berupa rasio yaitu jumlah perlakuan dan variabel dependennya ordinal (tingkat kecemasan) namun datanya akan sama semua karena diminta hingga kecemasannya hilang/rendah. Jika seperti ini uji apa yang digunakan? Apakah benar menggunakan uji regresi linier untuk melihat pengaruh jumlah perlakuan terhadap tingkat kecemasan akhir?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba Anda lihat referensi penelitian terdahulu. Juga baca2 tentang metode penelitian agar dapat dipahami dengan baik sehingga pertanyaan juga terarah. Terima kasih.

      Hapus
  21. Selamat pagi bapak/ibu...ijin bertanya apakah boleh 1 rumusan masalah terdapat dua hipotesis?misalkan rumusn masalahnya apakah terdapat pengaruh motivasi thdp prestasi belajar?hipotesisnya
    1. Ha : terdapat pengaruh motivasi thdp prestasi


    2. Ha: terdapat hubungan motivasi thdp prestasi
    Selanjutnya apakah judul penelitian yg analissnya regresi sederhana dalam rumusan masalah boleh juga mencari hubungan antara var x dg y?misalkan pengaruh x thdp y
    Rumusan mslhnya
    1. Apakah trdpt pengaruh x dan y?
    2. Apakah terdapat hubungan x dan y?

    Trimksh atas perhatian dan jwbn bapak/ibu sekalian🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba buka materi metodologi penelitian kak, biasanya di situ sudah ada. Jika naskah Anda perlu direvisi, ya direvisi saja daripada mencari justifikasi yang nantinya malah akan terlihat aneh. Terima kasih.

      Hapus
  22. Dandy andrean14 April, 2021

    permisi bapak atau ibu di tempat, untuk skripsi saya berjudul 'PENGARUH E-WOM TERHADAP SIKAP MEREK DAN NIAT BELI' setelah saya baca beberapa komentar sangat cocok jika saya menggunakan regresi, namun disini saya mempunyai variabel intervening, apakah menggunakan regresi saja cukup?, dan kalau boleh saran regresi apa yang pas untuk penelitian saya karena jika saya baca jurnal terdahulu tidak di sebutkan, terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa menggunakan SEM. Tetapi kami sarankan untuk menggunakan jurnal yang ada keterangan metode yang dipergunakan. Satu jurnal sangatlah tidak cukup, biasanya kami sarankan 5 sd 10 jurnal yang dijadikan dasar penelitian Anda. Terima kasih.

      Hapus
  23. Halo kak izin bertanya, memgenai data saya terdapat variabel yg tidak berkorelasi namun ketika di lakukan regresi terdapat pengaruhnya dengan p-value <0,1

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika regresi berganda, bisa saja terjadi. Terima kasih.

      Hapus
  24. Maaf pak, mau nanya, keunggulannya metode anlisis regresi dibandingkan dengan korelasi apa ya pak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silahkan disimak di artikel dan tanya jawab di atas. Terima kasih.

      Hapus
  25. Pak, izin bertanya.
    1. Kalau variabel bebas menggunakan skala data nominal dan variabel terikat menggunakan skala data nominal, apakah uji regresi dapat dilakukan?
    2. Kalau variabel bebas menggunakan skala data ordinal dan variabel terikat menggunakan skala data nominal, apakah uji regresi dapat dilakukan?
    3. Kalau variabel bebas menggunakan skala data interval dan variabel terikat menggunakan skala data nominal, apakah uji regresi dapat dilakukan?
    Mohon pencerahannya pak🙏

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau yang dimaksud regresi linear berganda, variabel terikat hanya rasio atau interval. Terima kasih.
      Simak di sini

      Hapus
  26. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang paham dengan pertanyaannya. Mohon maaf.

      Hapus
  27. Izin bertanya, skripsi saya tentang pengaruh. Mana yang dilakukan dahulu, korelasi atau regresi? Bukankah ketika melihat pengaruh, harus ada hubungan terlebih dahulu? Nuhun atas jawabannya pa/bu ����

    BalasHapus
  28. Saya mau bertanya, penelitiann saya berjudul hubungan kemampuan menulis dan penguasaan kosakata terhadap kemampuan menulis teks. Apakah tidak masalah hanya menghitung korelasi tanpa menghitung regresinya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh kak, bahkan sangat boleh. Hubungan memang korelasi, sedangkan regresi cenderung ke pengaruh. Terima kasih.

      Hapus
  29. Saya ingin bertanya pak.. ada penelitian dengan judul PENGARUH POLA ASUH ORANG TUA PADA USIA DINI TERHADAP PERKEMBANGAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI ANAK,
    Ini termasuk "regresi" secara umum karena "pengaruh", tapi tidak variabel pola asuh orang tua bukan termasuk intervensi.. jadi apakah boleh untuk menjawab pertanyaan peneliti "adakah pengaruh antar variabelnya" menggunalan korelasi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kami sarankan Anda menghubungi penulis jurnal yang Anda rujuk. Terima kasih.

      Hapus
  30. Siang pak, izin bertanya.
    Ketika saya olah data, ternyata hasil koefisien beta X1 = -0.364 dan X2 = 1.102, sementara zero ordernya X1 = 0.481 dan X2 = 0.823. r square = 0,731. Mohon pencerahannya pak, koefisien determinasi utk mengetahui besar pengaruh dr masing2 variabel jadi tidak singkron, apakah salah pengolahannya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lakukan sesuai prosedurnya, lalu baru diinterpretasikan. Terima kasih.

      Hapus
  31. Pak kalo judul pengaruh terdiri dari 2 variabel apa bisa menggunakan analisis korelasi saja?

    BalasHapus
  32. Hi kk izin bertanya nih, aku pake judul hubungan nah awal pengajuan proposal pake korelasi, tapi dosen pembimbing katanya harus pake regresi linear sederhana dikarenakan biaya naik turun. Apakah bisa itu dicantumkan dua2nya, mohon dijawab kk. Saya mau konsul sama dosen, dosennya killer nggak mau diikuti��. Terima kasih kk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu hasil konsultasi mahasiswa dengan dosen. Terima kasih.

      Hapus
  33. Saya ingin bertanya.. apakah hitungan korelasi spearman bisa dilanjutkan dengan perhitungan regresi? tolong jelasin secara detail..mohon bantuannya segera..terimakasih banyak

    BalasHapus

Baca dulu sebelum tulis komentar:

Sebelum menuliskan pertanyaan, mohon disimak tanya jawab yang ada terlebih dahulu. Pertanyaan yang sama atau senada biasanya tidak terjawab. Untuk pengguna Blogger mohon profil diaktifkan agar tidak menjadi dead link. Atau simak dulu di Mengapa Pertanyaan Saya Tidak Dijawab?
Simak juga Channel kami di Statistik TV
Komentar akan kami moderasi dulu sebelum ditampilkan. Aktifkan Akun Google Anda.

Terima kasih.

Translate

Artikel Populer Seminggu Terakhir

Komentar Terbaru

`

Ingin menghubungi kami untuk kerja sama?

Nama

Email *

Pesan *