Kumpulan Humor Statistik (5)

Anda Bukan Statistikawan

Suatu saat, seorang eksekutif yang mempunyai ratusan perusahaan datang kepada seorang ahli statistik dengan membawa setumpuk data untuk dianalisis dan mengambil keputusan. Si ahli statistik menerima tumpukan kertas tersebut, masuk ke dalam suatu ruangan, lalu keluar sambil membawah hasil. Eksekutif tersebut terheran-heran dan bertanya.

"Bagaimana Anda bisa melakukan hal tersebut?"

"Maaf, kami tidak bisa memberitahukannya, karena Anda bukan seorang statistikawan!" jawabnya.

Beberapa lama kemudian, eksekutif datang lagi dengan permasalahan yang sama dan mendapatkan jawaban yang tepat untuk keputusannya. Karena penasaran, dia bertanya bagaimana melakukan hal tersebut, dan mendapatkan jawaban yang sama pula, yaitu bahwa dirinya bukan seorang statistikawan.

Akhirnya eksekutif tersebut bertanya bagaimana caranya menjadi seorang statistikawan. Dia mendapatkan jawaban,

"Statistik bekerja dengan angka-angka yang banyak, jadi sebelum menjadi statistikawan hitunglah rumput di halaman itu dan sampaikan hasilnya kepada saya".

Karena saking penasarannya, sang eksekutif menghitung jumlah rumput di halaman sampai berbulan-bulan sehingga akhirnya mendapatkan angka yang tepat seperti yang diharapkan oleh statistikawan tersebut.

"Baiklah, Anda telah berhasil melewati ujian, sekarang silahkan masuk ruangan saya untuk melihat bagaimana caranya kami melakukan analisi!"

Statistikawan mengajak eksekutif masuk ke ruangan, dan...ternyata ruangan itu benar-benar membuat eksekutif terheran-heran dan takjub luar biasa.

Namun, maaf, ceritanya sampai di sini saja, karena Anda BUKAN STATISTIKAWAN!!!!

Simulasi Lucu


Probabilitas Cerai

Suatu saat, seorang wanita pakar statistik pulang ke rumah dan mendapati suaminya sedang berdua dengan wanita lain di tempat tidur.

"Astaga! Tak kusangka Kau berbuat seperti ini", katanya kepada suaminya, "99% istri pasti akan meminta cerai melihat hal ini!"

"Tunggu dulu istriku", sahut suaminya yang juga pakar statistik, "Dengarkan dulu penjelasanku!"

"Wanita itu kudapati terkapar di jalan, sendirian dalam kondisi yang menyedihkan. Aku kasihan, lalu aku bahwa pulang. Aku rawat dia. Aku berikan pakaian yang kemungkinannya hanya 5% kamu pakai. Juga sepatu yang hanya 5% kemungkinannya kamu pakai. Ku beri dia makanan yang tingkat kesukaanmu hanya 5%"

Si suami terus menjelaskan bahwa apa yang dia berikan adalah segala sesuatu yang tidak signifikan, karena kurang dari 5% dipergunakan oleh istrinya.

"Oke!" cetus istrinya, "Lalu?"

"Ya begitulah", sambung suaminya, "Ketika aku antar wanita itu sampai ke pintu keluar, dia bertanya lagi kepadaku, apa lagi yang kemungkinan dipergunakan oleh istrimu di bawah 5%?"


Otak Koruptor

Alkisah, dirancang suatu penelitian tentang perilaku korupsi di Indonesia, terkait dengan perilaku dan kecerdasan otak dari para koruptor. Teori telah disusun dengan baik, dan tibalah saatnya pengambilan data primer oleh para statistikawan. Alih-alih, mereka kesulitan untuk mencari data tentang kecerdasan otak dari para koruptor. Mengapa? Karena ternyata para koruptor itu TIDAK PUNYA OTAK!!!


Hasil Analisis Kondisi Indonesia

Beberapa pakar statistik dari dalam dan luar negeri bekerja sama untuk melakukan penelitian di Indonesia tentang korelasi dan pengaruh berbagai atribut di Indonesia. Hasilnya agak mencengangkan seperti ini:

Tidak terdapat korelasi antara vonis hukuman dengan besarnya kerugian dalam suatu kasus pidana. Banyak kasus pidana dengan jumlah relatif kecil mendapatkan vonis yang sama dengan kasus pidana yang lebih besar, bahkan ada yang vonisnya lebih tinggi. Argumennya adalah bahwa hukum adalah cenderung ke kualitatif, bukan kuantitatif.

Terdapat korelasi positif antara waktu proses hukum dengan besarnya nilai yang diperkarakan. Artinya, semakin besar kasus korupsi yang diperkarakan, maka semakin lama proses hukum yang berlangsung. Argumennya adalah bahwa semakin besar nilai uang yang diperkarakan maka semakin rumit juga pembuktiannya sehingga memerlukan proses hukum yang lebih panjang.

Terdapat korelasi negatif antara tingkat intelektualitas dengan tingginya jabatan publik. Berarti semakin tinggi jabatan publik seseorang, baik di pemerintahan atau di partai, maka semakin rendah intelektualitasnya. Bahkan, para ahli kesulitan menemukan otak sebagai sumber intelektualitas pada para pucuk pimpinan. Argumennya adalah bahwa semakin tinggi jabatan publik, maka semakin tinggi dedikasi kepada rakyat, sehingga tidak memperhatikan kondisi dirinya, termasuk otaknya.

Terdapat korelasi positif antara kualitas toilet dengan kinerja. Semakin tinggi atau baik kualitas toilet, maka semakin tinggi pula kinerja seorang pejabat. Argumennya adalah bahwa output kinerja mereka sama persis dengan output mereka waktu di toilet.


Dilema Mahasiswa

Seorang mahasiswa dipanggil seorang dosen statistik karena tidak pernah mengikuti mata kuliahnya. Sang dosen berusaha untuk bersikap sabar dan dengan nada ramah menanyakan alasan mahasiswa tersebut.

Mahasiswa: Saya tidak masuk karena materi dan gaya penyampaian Bapak membosankan, sehingga membuat saya mengantuk.

Dosen: (berusaha untuk tetap sabar). Lalu mengapa Saudara tidak datang dan tidur saja? Sekedar memenuhi persyaratan kehadiran.

Mahasiswa: Suara Bapak sangat keras, sehingga membuat saya tidak bisa tidur!

Dosen: !@#$%$##@!@#$%&


Statistik bikin cepat tua?

Seorang eksekutif muda yang mempunyai permasalahan statistik, menemui sebuah biro yang membantu permasalahan statistik. Dia ditemui oleh seorang pria yang wajahnya sudah relatif tua, rambut putih dan kerut-kerut wajahnya menunjukkan bahwa dirinya sudah tidak muda lagi.

Setelah mengutarakan keperluannya, statistikawan 'tua' tersebut segera memahami dan bersedia membantu eksekutif muda tersebut. Meskipun relatif tua, tapi statistikawan tersebut masih tahan memandangi komputer dengan sederetan angka yang rumit.

"Hmm..hebat juga orang tua ini?!" gumam Si eksekutif muda tersebut.

Akhirnya permasalahan selesai dengan baik. Si eksekutif muda mengucapkan terima kasih, dan mulai berbicara santai

"Wah, Anda ternyata hebat juga. Masih tahan melakukan pekerjaan yang cukup melelahkan mata dan pikiran", kata Si Eksekutif muda.

"Ah, biasa saja Pak", sahut si statistikawan merendah.

"Ngomong-ngomong, berapa usia Anda?", tanya Eksekutif muda.

"Tahun ini 29 tahun Pak!" jawab statistikawan santai.

Eksekutif muda: (dalam hati) makanya jangan keseringan melototin angka *&*&!@#^$&%^&&$^#&^$ cepet tua tuh.......


Alasan Kuliah Jurusan Statistik

Alkisah, dua orang sahabat yang baru saja lulus SMA berbincang tentang jurusan yang akan dipilih di Perguruan Tinggi. Anak yang satu berkata," Aku pengin kuliah di Kedokteran, nanti kalau sudah jadi dokter, pasti aku kaya!"

"Ah, kalau aku mau kuliah di jurusan Statistik saja!", sahut teman yang satunya.

"Lho kenapa? Kenapa tidak kuliah di Teknik atau Akuntansi saja?" tanya anak yang pertama.

"Kata orang, dengan statistik, kita bisa menyelesaikan setengah dari permasalahan hidup kita! Percuma kaya raya tapi kalau hidup banyak masalah", jawabnya.

"Tapi kan masih ada setengah masalah hidup yang lain!" sergah anak yang ingin jadi dokter.

"Gampang," sahut anak tersebut," Aku mau kuliah sampai S2, jadi semua masalah hidupku bisa terselesaikan!"


Dokter Jiwa dan Non Parametrik

Para ahli statistik mengusulkan agar para dokter spesialis jiwa diberikan mata kuliah statistik non parametrik tingkat lanjut. Menurut mereka, dokter spesialis penyakit jiwa harus menguasai dengan baik statistik non parametrik, karena bekerja dengan subjek yang tidak normal.


Survey tentang Perceraian

Sebuah survey menunjukkan bahwa pernikahan tanpa didasari cinta cenderung gagal, karena mana mungkin sanggup hidup bertahun2 dengan orang yang tidak dicintai.

Survey lain menunjukkan bahwa pernikahan yang didasari cinta cenderung gagal. Mengapa? Karena cinta sering membutakan mata dan logika dalam mengambil keputusan.


Tunggu Sedetik Lagi

Alkisah, para ahli statistik sedunia berkumpul dalam suatu simposium terbesar yang pernah ada di bumi ini. Setelah bekerja siang dan malam, akhirnya para ahli statistik tersebut menemukan koefisien regresi yang spektakuler dan merupakan maha karya manusia terbesar sepanjang sejarah. Mereka menemukan koefisien bahwa satu sen bagi Tuhan sama dengan satu milyar dollar bagi manusia dan satu detik bagi Tuhan sama dengan sejuta tahun bagi manusia.

Setelah melakukan selebrasi, maka pemimpin tertinggi dari komunitas tersebut memohon kepada Tuhan:

"Tuhan, kami sudah tahu semuanya, dan kami mohon berilah kami satu sen saja. Suatu jumlah yang sangat kecil bagi Engkau yang Maha Pemurah".

Tuhan menjawab dengan tenang:

"Baiklah. Tapi Aku ambil dulu ya....tidak lama kok, paling cuma SEDETIK!!!!"

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca dulu sebelum tulis komentar:

Sebelum menuliskan pertanyaan, mohon disimak tanya jawab yang ada terlebih dahulu. Pertanyaan yang sama atau senada biasanya tidak terjawab. Untuk pengguna Blogger mohon profil diaktifkan agar tidak menjadi dead link. Atau simak dulu di Mengapa Pertanyaan Saya Tidak Dijawab?
Simak juga Channel kami di Statistik TV
Komentar akan kami moderasi dulu sebelum ditampilkan. Aktifkan Akun Google Anda.

Terima kasih.

Translate

Artikel Populer Seminggu Terakhir

Komentar Terbaru

`

Ingin menghubungi kami untuk kerja sama?

Nama

Email *

Pesan *